Novel Athirah Karya Alberthiene Endah Sebagai Materi Ajar Sastra: Psikologi Sastra dan Nilai Pendidikan Karakter
NIM: K4219039
Julia Indriyanti Harningtyas
Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa
Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan
Sebuah novel terdapat berbagai unsur pendukung cerita. Sebuah novel takkan lepas dari cerita tentang kehidupan manusia baik dari segi kebudayaan maupun sosial masyarakatnya. Dalam pembahasannya, sebuah karya sastra bisa diteliti melalui berbagai pendekatan yang berkaitan dengan segala hal yang menyangkut kehidupan manusia atau masyarakatnya. Sosiologi sastra, psikologi sastra, dan antropologi sastra, sebagai ilmu sosial humaniora jelas mempermasalahkan manusia. Perbedaannya sosiologi sastra mempermasalahkan masyarakat, psikologi sastra pada aspek-aspek kejiwaan, sedangkan antropologi sastra pada kebudayaannya (Ratna, 2009:353).
Wellek dan Warren (dalam Wahyuningtyas dan Santosa, 2011:8) juga mengatakan bahwa psikologi dalam sastra terdapat empat kategori, yaitu: (1) studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi; (2) studi hukum-hukum psikologi yang diterapkan dalam karya sastra; (3) proses kreatif; dan (4) pengarang dan latar belakang pengarangnya mempelajari dampak sastra terhadap pembaca atau psikologi karya sastra. Psikologi sastra adalah suatu disiplin ilmu mengenai kejiwaan. Psikologi merupakan ilmu yang berdiri sendiri, tidak bergabung dengan ilmu-ilmu lain. Namun psikologi tidak boleh dipandang sebagai ilmu yang sama sekali terlepas dari ilmuilmu lainnya. Berdasarkan penjelasan tersebut, pemilihan objek penelitian ini adalah Athirah karya Alberthiene Endah (2016) karena dianggap mampu menggambarkan aspek psikologi sastra yang terdapat di dalamnya. Selain itu, penelitian ini dilakukan dengan alasan bahwa novel Athirah ini menarik untuk dianalisis, dan belum pernah diteliti sebelumnya. Novel Athirah banyak mempertemukan nilai-nilai pendidikan karakter.
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan: (1) Unsur intrisnik yang terkandung dalam novel Athirah Karya Alberthiene Endah, (2) Karakteristik kejiwaan tokoh utama dalam novel Athirah Karya Alberthiene Endah, (3) Nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel Athirah Karya Alberthiene Endah, dan (4) Relevansi novel Athirah Karya Alberthiene Endah sebagai materi pembelajaran sastra di SMA.
Penelitian ini difokuskan pada aspek psikologi sastra, nilai- nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam novel serta relevansinya dengan pembelajaran sastra di SMA. Aspek pendekatan psikologi sastra dalam penelitian ini Penelitian psikologi sastra terhadap sebuah karya sastra berusaha mengkaji atau memahami aspekaspek kejiwaan yang terkandung dalam novel Athirah karya Alberthiene Endah. Melalui pemahaman terhadap para tokoh misalnya, masyarakat dapat memahami perubahan, kontradiksi dan penyimpanganpenyimpangan lain yang terjadi di masyarakat khususnya yang terkait dengan psikologi.
Dalam novel Athirah Karya Alberthiene Endah terdapat nilai-nilai pendidikan karakter. Nilai pendidikan karakter itu sendiri adalah nilai-nilai yang secara langsung maupun tidak langsung ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan karakter pembaca harus mampu menganalisis nilai yang ingin disampaikan oelh penulis. Selain itu nilainilai yang terkandung dalam novel dapat dijadikan bahan pembelajaran di sekolah khususnya untuk siswa kelas XII di SMA. - https://jurnal.uns.ac.id/Basastra/article/view/37775
Alur yang terdapat dalam novel Athirah karya Alberthiene Endah adalah alur campuran. Sebab cerita novel Athirah menggunkan alur garis lurus dan alur flasback. Alur garis lurus digunakan dalam mengisahkan hari-hari Jusuf dan keluarganya setelah kematian Emma. Adapun alur flashback digunakan untuk mengisahkan perjuangan Emma saat khawatir mengenai perubahan perilaku suaminya.
Penokohan merupakan salah satu unsur intrinsik karya sastra di samping alur, latar, amanat, dan sudut pandang pengarang. Istilah „tokoh‟ biasa dipergunakan untuk menunjuk pada pelaku cerita. Tokoh merujuk pada individuindividu yang muncul di dalam cerita. Namun, kata character yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi kata “tokoh” dengan pengertian seperti terurai di atas, juga memiliki arti „watak, karakter, sifat” (Pujiharto, 2012: 43-44). Athirah merupakan sosok yang cantik. Kecantikannya diinginkan banyak lelaki dan diimpikan para orang tua yang memiliki anak laki-laki. Dia merupakan sosok yang lembut, sabar, tabah, dan tegar dalam menjalani kehidupannya. Jusuf merupakan anak kedua Athirah dan Haji Kalla. Jusuf mempunyai sikap yang bertanggung jawab kepada adik-adiknya karena dia adalah anak laki-laki tertua. Dia juga sangat mencintai dan perhatian kepada ibunya. Ia selalu menghibur dan menenangkan ibunya, jika ibunya bersedih. Jusuf merupakan sosok yang pantang menyerah terutama saat berusaha menggapai cinta Mufidah, dia juga aktif berorganisasi.
Haji Kalla merupakan seorang petarung yang dihormati banyak orang tua karena kegigihannya. Haji Kalla juga sosok bapak yang sempurna bagi Jusuf walaupun bapaknya tersebut berpoligami. Haji Kalla peduli terhadap tumbuh kembang anaknya dan sering memberi nasihat kepada anak-anaknya. Haji Kalla adalah sosok yang arif, luwes, ulet dalam berdagang maupun bergaul. Dia dapat bersikap adil kepada dua keluarganya. Mufidah adalah gadis yang sangat dicintai oleh Jusuf. Dia merupakan pribadi yang tertutup dan susah didekati oleh Jusuf Mufidah juga merupakan anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya.
Mak Kerra merupakan istri keempat dari seorang kepala kampung. Mak Kerra digambarkan sebagai sosok yang sangat cantik. Mak Kerra merupakan pribadi yang tangguh dan tabah. Mohammad adalah seorang kepala kampung. Dia mempunyai empat istri. Istri keempatnya adalah Mak Kerra. Mohammad merupakan sosok yang terpandang dan dihormati. Nurani merupakan kakak Jusuf Kalla. Dia gadis yang tangkas dan lincah. Dia juga berpikir kritis mengenai hubungan kedua orang tuanya. Sosok Nur juga sangat teguh pada prinsip dan mencintai adiknya. Zohra merupakan sosok yang kritis, taham, dan tidak pernah lelah mengamati. Ahmad merupakan anak yang pandai dan stabil. Halim merupakan sosok yang bengal. Suhaeli dan Siti Rahmlah merupakan sosok yang mempunyai pendirian.
Rosyid, Dullah, dan Ikra merupakan kawan sepermainan Jusuf. Rosyid digambarkan sebagai sosok yang berkata apa adanya dan emosional. Begitupula Dullah, ia sosok yang berkata apa adanya. Sedangkan Ikra merupakan sosok yang perhatian Ikra digambarkan mempunyai rambut ikal dengan rahang tegas dan kulit legam dan berasal dari Ambon. Somad, Rudi, dan Baha merupakan kawan Jusuf sewaktu duduk di bangku SMP. Rudi merupakan sosok yang tampan dan suka menggoda. Bahar merupakan sosok yang baik hati. Sedangkan Abdullah merupakan orang yang bijak.
Abdullah, Abduh, dan Anwar merupakan kawan Jusuf sewaktu duduk di bangku SMA. Abdullah adalah sosok yang bijak. Abduh merupakan kawan Jusuf yang paling Jahil. Sedangkan Anwar mempunyai sifat jahil dan suka menggoda. Hussain dikenal sebagai pemimpin gerombolan DI/TII di Bone. Hussain mempunyai tubuh yang kukuh, wajah keras, sorot mata berani, dan juga jago berkelahi. Hussain membuat orang-orang kampung ketakutan. Daeng Rahmat merupakan pegawai Haji Kalla yang sangat dekat dengan Jusuf. Daeng Rahmat merupakan sosok yang bersimpati kepada Jusuf. Dia sering memberi Jusuf dukungan maupun nasihat.
Latar atau setting meliputi tempat, waktu, dan budaya yang digunakan dalam suatu cerita. Latar dalam suatu cerita bisa bersifat faktual atau bisa pula imajiner. Latar berfungsi untuk memperkuat atau mempertegas keyakinan pembaca terhadap jalannya suatu cerita (Kosasih, 2012: 67). Latar tempat yang ada dalam novel Athirah karya Alberthiene Endah meliputi makam Arab, Makassar, Masjid Raya, Masjid Raya, kamar, dapur, pasar Bajoe, pelabuhan, tanah suci, perpustakaan, tempat resepsi, Bantimurung, rumah sakit Elizabeth, rumah Muffidah, restoran Malabar, kampus UMI, rumah Maryam, kantin, Tokyo, rumah sakit Hasan Sadikin, dan Jalan Haji Ramli. Latar waktu anatara lain siang hari, tahun 1955, tahun 1956, tahun 1923, tahun 1924, pagi hari, subuh, malam hari, tahun 1957, sore hari, tahun 1920, tahun 1940-1942, tahun 1958, tahun 1959, tahun 1960, tahun 1965, tahun 1967, dasawarsa 70-an, 19 Januari 1982, 2013.
Sudut pandang adalah suatu metode narasi yang menentukan posisi atau sudut pandang dari mana cerita disampaikan. Sudut pandang persona ketiga “diaan” digunakan dalam pengisahan cerita dengan gaya “dia”. Narator atau pencerita adalah seseorang yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama atau menggunakan kata ganti seperti “ia”, “dia” atau “mereka” (Minderop dalam Minderop 2013: 81). Point of View menurut Pujiharto (2012: 66) merupakan pusat kesadaran pengarang dalam menyampaikan ceritanya. Sudut pandang pengarang menurut Waluyo (2011: 25) merupakan teknik yang digunakan oleh pengarang untuk berperan dalam cerita itu. Berdasarkan pengertian di atas, menurut peneliti sudut pandang yang digambarkan oleh pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku sampingan.
Amanat yang dapat diambil dari novel Athirah karya Alberthiene Endah antara lain, yang pertama yaitu selalu taat beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Amanat kedua adalah harus setia kepada pasangan kita. Amanat selanjutnya yaitu kita seba gai manusia harus ikhlas dan penuh syukur dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Dari pembahasan tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa unsur intrinsik merupakan unsur-unsur yang membangun novel. Hasil analisis unsur intrinsik menunjukkan novel Athirah karya Alberthiene Endah merupakan salah satu novel yang memiliki nilai tinggi karena unsur intrinsik saling melengkapi dan membentuk kisah yang indah. Karakteristik Kejiwaan Tokoh
Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dan pendekatan analisis isi. Simpulan yang dihasilkan, yakni: struktur intrinsik novel Athirah meliputi tema, alur, penokohan, latar, sudut pandang, dialog, gaya bercerita dan amanat; sebagai manusia tokoh dalam novel Athirah memiliki kebutuhan untuk dapat bertahan hidup; kisah dalam novel Athirah mengandung nilai-nilai pendidikan karakter; dan novel Athirah merupakan novel yang relevan dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
Julia Indriyanti Harningtyas
Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa
Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan
A. Latar Belakang
Sastra menyajikan gambaran kehidupan yang terdiri dari kenyataan sosial, mencakup hubungan antarmasyarakat dengan orang-orang, antarmanusia, antarperistiwa yang terjadidalam batin seseorang (Muslimin,2011:132). Sebuah karya sastra yang berawal dari sebuah proses kreatif disebut juga dengan tulisan fiksi. Shipley (dalam Pujiharto, 2012: 4) menyebutkan bahwa kata fiction dalam bahasa Inggris merupakan serapan dari bahasa Latin, fictio. Kata fictio itu sendiri berasal dari kata kerja fingere, fictum, yang dalam bahasa Inggris diartikan dengan to fashion, to form, dan kadang-kadang feign.Sebuah novel terdapat berbagai unsur pendukung cerita. Sebuah novel takkan lepas dari cerita tentang kehidupan manusia baik dari segi kebudayaan maupun sosial masyarakatnya. Dalam pembahasannya, sebuah karya sastra bisa diteliti melalui berbagai pendekatan yang berkaitan dengan segala hal yang menyangkut kehidupan manusia atau masyarakatnya. Sosiologi sastra, psikologi sastra, dan antropologi sastra, sebagai ilmu sosial humaniora jelas mempermasalahkan manusia. Perbedaannya sosiologi sastra mempermasalahkan masyarakat, psikologi sastra pada aspek-aspek kejiwaan, sedangkan antropologi sastra pada kebudayaannya (Ratna, 2009:353).
Wellek dan Warren (dalam Wahyuningtyas dan Santosa, 2011:8) juga mengatakan bahwa psikologi dalam sastra terdapat empat kategori, yaitu: (1) studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi; (2) studi hukum-hukum psikologi yang diterapkan dalam karya sastra; (3) proses kreatif; dan (4) pengarang dan latar belakang pengarangnya mempelajari dampak sastra terhadap pembaca atau psikologi karya sastra. Psikologi sastra adalah suatu disiplin ilmu mengenai kejiwaan. Psikologi merupakan ilmu yang berdiri sendiri, tidak bergabung dengan ilmu-ilmu lain. Namun psikologi tidak boleh dipandang sebagai ilmu yang sama sekali terlepas dari ilmuilmu lainnya. Berdasarkan penjelasan tersebut, pemilihan objek penelitian ini adalah Athirah karya Alberthiene Endah (2016) karena dianggap mampu menggambarkan aspek psikologi sastra yang terdapat di dalamnya. Selain itu, penelitian ini dilakukan dengan alasan bahwa novel Athirah ini menarik untuk dianalisis, dan belum pernah diteliti sebelumnya. Novel Athirah banyak mempertemukan nilai-nilai pendidikan karakter.
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan: (1) Unsur intrisnik yang terkandung dalam novel Athirah Karya Alberthiene Endah, (2) Karakteristik kejiwaan tokoh utama dalam novel Athirah Karya Alberthiene Endah, (3) Nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel Athirah Karya Alberthiene Endah, dan (4) Relevansi novel Athirah Karya Alberthiene Endah sebagai materi pembelajaran sastra di SMA.
Penelitian ini difokuskan pada aspek psikologi sastra, nilai- nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam novel serta relevansinya dengan pembelajaran sastra di SMA. Aspek pendekatan psikologi sastra dalam penelitian ini Penelitian psikologi sastra terhadap sebuah karya sastra berusaha mengkaji atau memahami aspekaspek kejiwaan yang terkandung dalam novel Athirah karya Alberthiene Endah. Melalui pemahaman terhadap para tokoh misalnya, masyarakat dapat memahami perubahan, kontradiksi dan penyimpanganpenyimpangan lain yang terjadi di masyarakat khususnya yang terkait dengan psikologi.
Dalam novel Athirah Karya Alberthiene Endah terdapat nilai-nilai pendidikan karakter. Nilai pendidikan karakter itu sendiri adalah nilai-nilai yang secara langsung maupun tidak langsung ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan karakter pembaca harus mampu menganalisis nilai yang ingin disampaikan oelh penulis. Selain itu nilainilai yang terkandung dalam novel dapat dijadikan bahan pembelajaran di sekolah khususnya untuk siswa kelas XII di SMA. - https://jurnal.uns.ac.id/Basastra/article/view/37775
B. Tujuan Artikel
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra. Dalam hal ini peneliti mendeskripsikan data yang diperoleh secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan hubungan kausal fenomena yang diteliti. Peneliti bertindak sebagai pembaca aktif, terus menerus membaca, mengamati dan mengidentifikasi satuan-satuan tutur yang sesuai dengan tujuan penelitian kemudian menafsirkan dan menganalisis hasil penelitian. Hasil penelitian ini bukan berupa angka melainkan pendeskripsian mengenai objek yang diteliti. Data dari penelitian ini berupa data verbal yaitu paparan dari pernyataan tokoh yang berupa dialog maupun monolog, serta narasi yang ada pada novel Athirah karya Alberthiene Endah.C. Pembahasan
Kenney (dalam Pujiharto, 2012: 60) mengatakan tema adalah arti cerita; tema adalah arti penyiaran cerita; tema mungkin menjadi penemuan cerita. Tema dalam novel Athirah adalah kesabaran, ketabahan, dan ketegaran dalam menjalani hidup dan perubahan dalam sisi kehidupannya. Athirah dengan sabar menjalani kehidupan poligami walaupun pada awalnya dia merasa sangat sedih. Ketabahan ditunjukkan saat dia matimatian menciptakan suasana yang wajar saat poligami terjadi. Ketegarannya ditunjukkan dengan menjalani takdir dengan berbisnis sarung.Alur yang terdapat dalam novel Athirah karya Alberthiene Endah adalah alur campuran. Sebab cerita novel Athirah menggunkan alur garis lurus dan alur flasback. Alur garis lurus digunakan dalam mengisahkan hari-hari Jusuf dan keluarganya setelah kematian Emma. Adapun alur flashback digunakan untuk mengisahkan perjuangan Emma saat khawatir mengenai perubahan perilaku suaminya.
Penokohan merupakan salah satu unsur intrinsik karya sastra di samping alur, latar, amanat, dan sudut pandang pengarang. Istilah „tokoh‟ biasa dipergunakan untuk menunjuk pada pelaku cerita. Tokoh merujuk pada individuindividu yang muncul di dalam cerita. Namun, kata character yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi kata “tokoh” dengan pengertian seperti terurai di atas, juga memiliki arti „watak, karakter, sifat” (Pujiharto, 2012: 43-44). Athirah merupakan sosok yang cantik. Kecantikannya diinginkan banyak lelaki dan diimpikan para orang tua yang memiliki anak laki-laki. Dia merupakan sosok yang lembut, sabar, tabah, dan tegar dalam menjalani kehidupannya. Jusuf merupakan anak kedua Athirah dan Haji Kalla. Jusuf mempunyai sikap yang bertanggung jawab kepada adik-adiknya karena dia adalah anak laki-laki tertua. Dia juga sangat mencintai dan perhatian kepada ibunya. Ia selalu menghibur dan menenangkan ibunya, jika ibunya bersedih. Jusuf merupakan sosok yang pantang menyerah terutama saat berusaha menggapai cinta Mufidah, dia juga aktif berorganisasi.
Haji Kalla merupakan seorang petarung yang dihormati banyak orang tua karena kegigihannya. Haji Kalla juga sosok bapak yang sempurna bagi Jusuf walaupun bapaknya tersebut berpoligami. Haji Kalla peduli terhadap tumbuh kembang anaknya dan sering memberi nasihat kepada anak-anaknya. Haji Kalla adalah sosok yang arif, luwes, ulet dalam berdagang maupun bergaul. Dia dapat bersikap adil kepada dua keluarganya. Mufidah adalah gadis yang sangat dicintai oleh Jusuf. Dia merupakan pribadi yang tertutup dan susah didekati oleh Jusuf Mufidah juga merupakan anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya.
Mak Kerra merupakan istri keempat dari seorang kepala kampung. Mak Kerra digambarkan sebagai sosok yang sangat cantik. Mak Kerra merupakan pribadi yang tangguh dan tabah. Mohammad adalah seorang kepala kampung. Dia mempunyai empat istri. Istri keempatnya adalah Mak Kerra. Mohammad merupakan sosok yang terpandang dan dihormati. Nurani merupakan kakak Jusuf Kalla. Dia gadis yang tangkas dan lincah. Dia juga berpikir kritis mengenai hubungan kedua orang tuanya. Sosok Nur juga sangat teguh pada prinsip dan mencintai adiknya. Zohra merupakan sosok yang kritis, taham, dan tidak pernah lelah mengamati. Ahmad merupakan anak yang pandai dan stabil. Halim merupakan sosok yang bengal. Suhaeli dan Siti Rahmlah merupakan sosok yang mempunyai pendirian.
Rosyid, Dullah, dan Ikra merupakan kawan sepermainan Jusuf. Rosyid digambarkan sebagai sosok yang berkata apa adanya dan emosional. Begitupula Dullah, ia sosok yang berkata apa adanya. Sedangkan Ikra merupakan sosok yang perhatian Ikra digambarkan mempunyai rambut ikal dengan rahang tegas dan kulit legam dan berasal dari Ambon. Somad, Rudi, dan Baha merupakan kawan Jusuf sewaktu duduk di bangku SMP. Rudi merupakan sosok yang tampan dan suka menggoda. Bahar merupakan sosok yang baik hati. Sedangkan Abdullah merupakan orang yang bijak.
Abdullah, Abduh, dan Anwar merupakan kawan Jusuf sewaktu duduk di bangku SMA. Abdullah adalah sosok yang bijak. Abduh merupakan kawan Jusuf yang paling Jahil. Sedangkan Anwar mempunyai sifat jahil dan suka menggoda. Hussain dikenal sebagai pemimpin gerombolan DI/TII di Bone. Hussain mempunyai tubuh yang kukuh, wajah keras, sorot mata berani, dan juga jago berkelahi. Hussain membuat orang-orang kampung ketakutan. Daeng Rahmat merupakan pegawai Haji Kalla yang sangat dekat dengan Jusuf. Daeng Rahmat merupakan sosok yang bersimpati kepada Jusuf. Dia sering memberi Jusuf dukungan maupun nasihat.
Latar atau setting meliputi tempat, waktu, dan budaya yang digunakan dalam suatu cerita. Latar dalam suatu cerita bisa bersifat faktual atau bisa pula imajiner. Latar berfungsi untuk memperkuat atau mempertegas keyakinan pembaca terhadap jalannya suatu cerita (Kosasih, 2012: 67). Latar tempat yang ada dalam novel Athirah karya Alberthiene Endah meliputi makam Arab, Makassar, Masjid Raya, Masjid Raya, kamar, dapur, pasar Bajoe, pelabuhan, tanah suci, perpustakaan, tempat resepsi, Bantimurung, rumah sakit Elizabeth, rumah Muffidah, restoran Malabar, kampus UMI, rumah Maryam, kantin, Tokyo, rumah sakit Hasan Sadikin, dan Jalan Haji Ramli. Latar waktu anatara lain siang hari, tahun 1955, tahun 1956, tahun 1923, tahun 1924, pagi hari, subuh, malam hari, tahun 1957, sore hari, tahun 1920, tahun 1940-1942, tahun 1958, tahun 1959, tahun 1960, tahun 1965, tahun 1967, dasawarsa 70-an, 19 Januari 1982, 2013.
Sudut pandang adalah suatu metode narasi yang menentukan posisi atau sudut pandang dari mana cerita disampaikan. Sudut pandang persona ketiga “diaan” digunakan dalam pengisahan cerita dengan gaya “dia”. Narator atau pencerita adalah seseorang yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama atau menggunakan kata ganti seperti “ia”, “dia” atau “mereka” (Minderop dalam Minderop 2013: 81). Point of View menurut Pujiharto (2012: 66) merupakan pusat kesadaran pengarang dalam menyampaikan ceritanya. Sudut pandang pengarang menurut Waluyo (2011: 25) merupakan teknik yang digunakan oleh pengarang untuk berperan dalam cerita itu. Berdasarkan pengertian di atas, menurut peneliti sudut pandang yang digambarkan oleh pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku sampingan.
Amanat yang dapat diambil dari novel Athirah karya Alberthiene Endah antara lain, yang pertama yaitu selalu taat beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Amanat kedua adalah harus setia kepada pasangan kita. Amanat selanjutnya yaitu kita seba gai manusia harus ikhlas dan penuh syukur dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Dari pembahasan tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa unsur intrinsik merupakan unsur-unsur yang membangun novel. Hasil analisis unsur intrinsik menunjukkan novel Athirah karya Alberthiene Endah merupakan salah satu novel yang memiliki nilai tinggi karena unsur intrinsik saling melengkapi dan membentuk kisah yang indah. Karakteristik Kejiwaan Tokoh
D. Kesimpulan
Saya sebagai mahasiswa Universitas Sebelas Maret Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: unsur intrinsik novel Athirah Karya Alberthiene endah; aspek psikologis tokoh; nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel Athirah; dan kesesuaian novel Athirah sebagai bahan ajar dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA.Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dan pendekatan analisis isi. Simpulan yang dihasilkan, yakni: struktur intrinsik novel Athirah meliputi tema, alur, penokohan, latar, sudut pandang, dialog, gaya bercerita dan amanat; sebagai manusia tokoh dalam novel Athirah memiliki kebutuhan untuk dapat bertahan hidup; kisah dalam novel Athirah mengandung nilai-nilai pendidikan karakter; dan novel Athirah merupakan novel yang relevan dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
Belum ada Komentar untuk "Novel Athirah Karya Alberthiene Endah Sebagai Materi Ajar Sastra: Psikologi Sastra dan Nilai Pendidikan Karakter"
Posting Komentar